Catatan dibalik corona
Tidak ada yang
bererti banyak dan
Tidak banyak yang
benar-benar berarti
Oleh : Dilla Rachma Aprilia
Gemuruh mendung menghitam
Seiring dengan datangnya pesan
Untuk meninggalkan tanah perantauan
Aku dan teman-teman cepat-cepat berkemas sambil
was-was
Saling mempertanyakan keadaan yang samar nan berabu
Para pimpinan menyalami kami dengan kerelaan hati
“Nak, pulanglah! Sebelum semua mengeruh dan menghitam”
“kembalilah ketika langit benar-benar cerah”, katanya.
Pertanyaan itu terjawab
Setelah sesampainya dirumah
Keluarga dengan tulus mendekap
Hari demi hari kekalutan itu nampak semakin jelas
Wabah, toghun, menjadi kabut yang menghalangi
pandangan
Corona yang awalnya merebak di negeri elit
Kini geram mencengkram ibu pertiwi
Pertanyaan demi pertanyaan mengusik pilu
Terasa ngilu di angan
Sampa kapan kami harus bertahan
Berdiam dirumah sambil disuguhi kabar kematian
Lalu bagaimana nasib mereka?
Mereka yang berjualan gorengan di gerbang asrama?
Mereka yang berjualan kelapa muda di trowongan kampus?
Bagaimana dengan mereka yang berjualan susu kedelai di
depan sekolah?
Apakah masih bisa makan?
Apakah anak istrinya tak kelaparan?
Hhhffttt....
Coba! Mari kita renungkan
Mereka yang tidak ikut berbuat, tapi merekalah yang
ditenggat
Mereka yang tak ikut berulah, tapi justru mereka yang
tumpah
Mereka yang tak mengerti apa-apa, tapi sadisnya
merekalah yang jadi tumbalnya
Lantas bagaimana mereka?
Mereka hanya bisa berkata “Tuhan pasti telah
memperhitungkan semua kejadian ini”
Haha...
Itu hanya untuk melipur dadanya sendiri yang sesak
Sekarat
Tapi itu benar! Ya! Semua itu benar
Mensucikan batin dan menghitung dosa
Adalah satu-satunya peti emas uantuk menyelesaikan
misi ini
Sudahilah
Sudahilah kedustaan dan segala ulah liciknya tangan!
Lewat pandemi ini tuhan telah titipkan pesan
“Bahwa tidak ada yang berarti banyak dan tidak banyak
yang benar-benar berarti”
https://www.youtube.com/channel/UCalytIIjxrQMAS3TW9jfttA