Entri yang Diunggulkan

Belayar Tanpa Peta

  Berlayar Tanpa Peta By dillarach   Mungkin bagi sebagian orang samudra itu menyeramkan Berombak ganas dan garang tanpa ampunan M...

Selasa, 15 Juni 2021

Belayar Tanpa Peta

 


Berlayar Tanpa Peta

By dillarach

 

Mungkin bagi sebagian orang samudra itu menyeramkan

Berombak ganas dan garang tanpa ampunan

Memang, manusia ditakdirkan untuk menapakkan kakinya di daratan

Memanfaatkan gravitasi alam bukan mengambang dilautan

 

Tapi apa kamu pernah membayangkan?

Bahwa disana ada dunia yang tak pernah terlukiskan

Dunia bebas yang hanya ada kamu dan tuhan

Dunia dimana kau hanya bergatung pada doa dan harapan


Ingin ku ceritakan?

Bahwa ternyata berlayar tanpa peta itu sangat menyenangkan

Bertemu rintangan dan segala macam cobaan

Yang pada akhirnya mampu ditepis dan menjadi batu loncatan

 

Apalagi ketika menikmati rintik air hujan

Percayalah kamu akan merasa sempurna dengan guyuran nikmat tuhan

Menengadahkan wajah sambil memejamkan mata sangatlah patut untuk kau coba

Karna kamu berhak atas duniamu sendiri seutuhnya.

Rabu, 17 Juni 2020


Catatan dibalik corona
Tidak ada yang bererti banyak dan
Tidak banyak yang benar-benar berarti
Oleh : Dilla Rachma Aprilia

Gemuruh mendung menghitam
Seiring dengan datangnya pesan
Untuk meninggalkan tanah perantauan

Aku dan teman-teman cepat-cepat berkemas sambil was-was
Saling mempertanyakan keadaan yang samar nan berabu
Para pimpinan menyalami kami dengan kerelaan hati
“Nak, pulanglah! Sebelum semua mengeruh dan menghitam”
“kembalilah ketika langit benar-benar cerah”, katanya.

Pertanyaan itu terjawab
Setelah sesampainya dirumah
Keluarga dengan tulus mendekap

Hari demi hari kekalutan itu nampak semakin jelas
Wabah, toghun, menjadi kabut yang menghalangi pandangan
Corona yang awalnya merebak di negeri elit
Kini geram mencengkram ibu pertiwi

Pertanyaan demi pertanyaan mengusik pilu
Terasa ngilu di angan
Sampa kapan kami harus bertahan
Berdiam dirumah sambil disuguhi kabar kematian

Lalu bagaimana nasib mereka?
Mereka yang berjualan gorengan di gerbang asrama?
Mereka yang berjualan kelapa muda di trowongan kampus?
Bagaimana dengan mereka yang berjualan susu kedelai di depan sekolah?

Apakah masih bisa makan?
Apakah anak istrinya tak kelaparan?

Hhhffttt....
Coba! Mari kita renungkan
Mereka yang tidak ikut berbuat, tapi merekalah yang ditenggat
Mereka yang tak ikut berulah, tapi justru mereka yang tumpah
Mereka yang tak mengerti apa-apa, tapi sadisnya merekalah yang jadi tumbalnya

Lantas bagaimana mereka?
Mereka hanya bisa berkata “Tuhan pasti telah memperhitungkan semua kejadian ini”
Haha...
Itu hanya untuk melipur dadanya sendiri yang sesak
Sekarat

Tapi itu benar! Ya! Semua itu benar
Mensucikan batin dan menghitung dosa
Adalah satu-satunya peti emas uantuk menyelesaikan misi ini
Sudahilah
Sudahilah kedustaan dan segala ulah liciknya tangan!
Lewat pandemi ini tuhan telah titipkan pesan
“Bahwa tidak ada yang berarti banyak dan tidak banyak yang benar-benar berarti”


https://www.youtube.com/channel/UCalytIIjxrQMAS3TW9jfttA

Minggu, 26 Januari 2020

Potential Source


Malang, 27 Januari 2020
JAMU TRADISIONAL MENJADI CAMILAN SEHAT KELUARGA

Ekstrak rempah jamu gendong (jamu tradisional) menjadi camilan sehat keluarga Indonesia di era modern.


Indonesia adalah negara yang terkenal akan kekayaan alam yang sangat luarbiasa. Seperti rempah-rempah dan tanaman herbal serta produk hayati lainnya.Warga Indonesia pasti tidak asing lagi dengan istilah jamu tradisional. Kata “Jamu” yang berasal dari bahasa jawa memiliki arti sebagai “obat” yang mana fungsinya bisa memulihkan penyakit kesehatan manusia.
Di jaman yang serba modern ini, tentulah para produsen jamu harus berfikir keras akan keunggulan produk serta kreatifitas pemasarannya. Tentunya tanpa menghilangkan kemurnian kandungan rempah tradisional yang digunakan. Tuntutan keadaan ini membuat para produsen jamu memunculkan banyak sekali inovasi baru dalam bisnisnya. Termasuk bagaimana cara pengemasan, pengembangan varian rasa, serta model pemasaran.
Desa Karangrejo merupakan salah satu desa di daerah Kab. Malang yang terkenal sebagai icon “Desa Wisata Edukasi Jamu Gendong”. Mayoritas penduduknya (85 %) berprofesi sebagai produsen jamu. Ibu Shofi misalnya, beliau adalah salah satu anggota paguyuban jamu desa yang memiliki inovasi yang berbeda dari penjual lainnya. Dalam proses produksinya ibu Shofi menciptakan ekstrak jamu tradisional menjadi jamu instan yang sangat mudah dikonsumsi tanpa mengurangi cita rasa dan khasiatnya. Contoh modernitas produk ekstrak jamu ialah permen dan serbuk jamu instan dengan varian rasa yang beragam.

   *Produk ekstrak jamu varian rasa “Jahe”
Permen jamu yang dihasilkan memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan jamu gendong cair biasanya. Produk olahan ekstrak jamu ini bisa bertahan lama dan memiliki daya tarik tersendiri dalam pengemasannya. Dari dahulu kita selalu berfikir bahwa jamu tradisional adalah cairan fresh sekali minum yang mudah basi jika dibiarkan beberapa lama serta hanya bisa didapati di desa. Kini hal tersebut bisa diatasi dengan inovasi baru yang ditawarkan.
Omset penjualan ekstrak jamu ini pun semakin meningkat karena produk memiliki jangkauan pengiriman ke beberapa daerah yang sangat jauh dan relatif luas. Disamping itu produsen juga telah memasok produk tersebut ke beberapa minimarket, mall dan koperasi masyarakat. Hal ini sangat memberikan dampak positif bagi masyarakat karena dengan cara inilah keluarga indonesia bisa mengkonsumsi camilan sehat tersebut tanpa harus bersusah payah mencari penjual jamu gendong di desa-desa. Tujuan utamanya adalah untuk menjadikan keluarga indonesia sehat serta mengaplikasikan nilai cinta produk dalam negeri.                    



Sourse : Ds. Karangrejo, Kec. Kromengan, Kab. Malang
"KKM Uin Maliki Mengabdi 2020 kelompok 165"
       

Jumat, 30 Agustus 2019

About Islam



Prohibition of wearing Islamic religious symbol in French

The prohibition of wearing Islamic religious symbol in french is becoming contentious. Enforcement of human rights is not a new thing for a  various nations in this world. Especially religious freedom and practice that we ordered. As long as the existence of a democratic system, these values ​​have begun to be interpreted differently in state international relations. One of them is a country in the European continent, namely France, country which has a various kinds of religion for the population. In 2014, the president of the French republic Jecques Chirac announced a new regulation about the prohibition of wearing  religious symbols in public spaces. He also gave discriminatory statements about the using of burqa and hijab for Muslims. (Rafsitahandjani, 2017). The reason is that the French government wants to build a secular society in their country to maintain security, gender, tolerance and avoid radicalism that is growing in there. This decision actually gets a lot of resistance and opposition, especially from the Muslim community, because Sauri Susanto said that “French is a country where the largest Muslim population in western Europe lived (Susanto, 2014). Because of these restriction many people be aggrieved. There are some negative effect from these prohibition.

This prohibition was very costly for Muslims in France. “The French Law no. 2004-228 of 15 March 2004, concerning, through the application of the principle of laı¨cite´, the wearing of symbols or clothing demonstrating religious affiliation in state primary and secondary schools.” (Spini, 2004). Based on the law above, many people consider that it is closely as a discriminatory not as a justice in the state. Therefore, It can not accepted by them because it caused emergence of  social problems inequality and tensions relations between Muslims and non-Muslim citizens in the society. France also disseminate a debate and indignation all over the world. Hundreds of Muslims women were arrested for breaking the set of rules. Actually, for a Muslims, hijab and burqa are not just a fashion style that covers their body but it is an obligation that must to do through their religion. The conflict is strongly articulated in terms of the principles of religion freedom. Therefore, from these problem we can noted that relationship between religion and politics it rests on a false separation of public and private. “If a secular state is to respect all faiths and ensure free practice of spiritual and cultural activities for all communities, this means, the panel argued, that the state must accept publicly visible manifestations of religion, and its ritual expression in public space.” (Mazza, 2009) . Religion cannot be relegated to the private sphere because religious expression is inherently social as well as personal or private. On a global level, religions have become a strong political symbol, and directly influence political action and decisions in every state.
This prohibition make an intolerance and harassment against the exiting interaction efforts of french Muslim before. Before the French government ratified the regulation, Muslims there had carried out the process of integration and cooperation with culture and another religion. The integration effort has run quite well and has a good effect. But after the ban was imposed, the situation became increasingly chaotic, which led to the existence of intolerance and disturbing the comfort of many people. This indirectly led to rebellion and religious divisions between the Muslim and non-Muslim. There are several examples of cases that occur. "In 1989 the issue of discrimination arose against students wearing headscarves in schools, 3 girls in the Creil, the suburbs in Paris were suspended because of wearing headscarves in public secondary schools (Wing, 2006). Based on data obtained from the French police there were 131 cases of racism reported in 2004 and 65 cases in 2005 and based on the annual Commission Nationale Consultative des Droits de l'Homme (CNCDH) report against Racism, Anti-Semitism and Xenophobia there were 352 cases violence and threats to immigrants from North Africa or to Muslims, 266 are threatening actions and the remaining 64 are acts of violence.” (EMC, 2006:72). If we look at the case above, we can conclude that the value of democracy and justice will not be enforced to the fullest in a French country. In fact, as we have seen, human rights are prioritized in various parts of the world. So from that this regulation can be deemed deviant and harms many people and does not rule out the possibility of a review and even the revocation of the decision.
This prohibition has caused many disputes. Many people do not agree with that decision. There are several considerations that convinced by people who do not agree with these regulations. First, these regulation shows intolerance and harassment against exiting integration efforts of French Muslims. (Wiles, 2005) Second, it was also provoked rebellion and religious division between Muslim  and Non-Muslim. For example there are many cases that make a Muslims as a victims. Besides that, the regulation was led Islam and other religions to battle and struggle each other. Than, as a country that upholds the values ​​of democracy and human rights it is considered very detrimental to the state. Because of the ban, the country 's democracy and justice will not grow up to the full extent. The process of justice and welfare among humans is very difficult to obtain. Even the fabric of society becomes unbalanced. Finally, there is an agreement in society that leads to a sense of hatred for a particular religion, it means that it can increased hostility towards both the Islamic symbols and the Islamic religion itself.
The regulations which regarding to the prohibition of using Islamic symbols in France are very contrary through  the principle of welfare of human life, because it is showing intolerance and harassment against the exiting integration efforts of French Muslim, provoked rebellion and religious divisions (Muslim and non-Muslim), Led to battle and struggle between Islam and other religions. Furthermore, because of the ban, the French country 's democracy and justice will not grow up to the maximum accession. Moreover, it is resulting many hostility towards the both of the Islamic symbols and the Islamic religion itself.






References

Spini, D.L. (2004). Unveiling The Headscarf Debate. Feminist Legal Studies; Kluwer Academic

              Publishers. Printed In The Netherlands., 333.

Mazza, O. (2009). The Right To Wear Headscarves And Other Religious Symbol In French, Turkish, And American School: How The Goverenment Draws A Veil On Free Expression Of Faith. Journal Of Catholic Legal Studies, 48 : No. 2, 304.
Rafsitahandjani, N. I. (2017, September-Desember). Dinamika Pelarangan Niqab Dan Burqa Di Eropa Barat: Studi Kasus Prancis Dan Belgia. Interdependence Journal, 05. No:3, 114.
Spini, D. L. (2004). Unveiling The Headscraf Debate. Feminist Legal Studies 12, 333.
Susanto, S. (2014). Dukungan European Court Of Human Right Bagi Pelanggaran Jilbab Di Sekolah, Serta Niqob Dan Burqo Di Perancis. Journal Thesis Of UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 01.
Wing, Adrien Katherine dan Smith, Monica Nigh. 2006. “Critical Race Feminism Lifts the
             Veil? Muslim Women, France, and the Headscarf Ban”, U.C Davis Law Review, 
             3 Januari 2006, hal. 754.

European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia, “Muslims in the European Union:
                Discrimination and Islamophobia” 2006. Hal. 72


Rabu, 28 Agustus 2019

Aku Aman !

Aku Aman 

Ingatan ini melayang, sekilas setelah ku pandang foto bersamanya beberapa waktu silam, kenangan itu sangat berkesan. Namanya Ilse Ortiz, ya..... aku bisa memanggilnya Ilse. ia berasal dari Morelia, Mexico. Seorang master pianis yang sangat menginspirasi. Kisah ini berawal dari rasa penasaran ku melihat rombongan tim budaya asal mexico yang ternyata nampak seorang waita yang menggunakan hijab. yaa! tepat sekali, dia lah orangnya. Paras anggunnya tak menutup kepribadian lemah lembut dalam dirinya. 

Cerita dari ilse, untuk menjadi seorang pianis hebat ia harus merelakan setiap malamnya untuk latihan. Right! setiap malam di bawah bimbingan pelatihnya yang berkebangsaan Rusia, dia dididik dengan sangat keras dan disiplin. Baginya waktu malam yang sunyi adalah waktu yang tepat dalam mencari inspirasi dan ide-ide aransmen nada. Sembilan tahun dia berjuang untuk mencapai standar pianis hebat, hingga sekarang ia menjadi seorang conductor dan pelatih untuk murid-muridnya. akupun sempat ditunjukan beberapa foto dan video konser. Dibalik gaun yang cantik, dentingan irama piano yang lembut ada sosok anggun dengan jari lentik yang sedang memainkannya. Refleks, aku bertanya," siapa itu ?" (karena aku lihat wanita itu tak berhijab ) ia pun menjawab sambil menutup video tersebut. " itu aku, sebelum menjadi Mu'allaf "

Enam tahun bukanlah waktu yang mudah baginya. selama ini dia berjuang mempertahankan keyakinan sendirian. keluarganya tak ada satupun yang muslim. Hidayah itu bermula ketika 6 bulan ia tinggal bersama keluarga temannya di Turkey. Ia bilang kenyamanan itu muncul dalam dirinya, dan pada saat itulah ia memutuskan untuk memilih jalan Islam. Menjadi Minoritas di Mexico tidak menghalanginya dalam berkarya. Tapi coba bayangkan kita hidup dalam negara yang Muslim nya bisa dihitung jari, yaaa... 20 orang saja kurang lebih muslim di Mexico. Ilse menjalani puasa yang lebih lama dari waktu indonesia. Bahkan, usai sholat idul fitri ia hanya bertelfon dengan teman turkeynya. cukup! iya cukup itu saja, kemudian ia pergi bekerja seperti biasanya. Dialah yang membuat aku sadar bahwa keimananku belum ada apa-apanya  dibanding dirinya yang hidup dalam rimba raya kebebasan.

Ilse ortiz bagiku adalah orang yang humoris, hangat, dan bersahabat. Teringat ketika ia belajar mengucap kata "Mollen" (javanese : nama salah satu kue di bojonegoro) yang sangat disukainya. Malam sebelum kita berpisah esok harinya, ia berkata: "Terimakasih, Aku Aman". Sejenak aku menahan nafas, menatapnya dengan pelukan cinta. Mendengarnya bercerita tentang "The dangers country-nya" yang sangat tidak aman bagi seorang perempuan keluar sendirian, negara penuh gemerlap party, pesta judi, serta gudang kebebasan, Tapi disana dia sendirian, kesepian dalam keteguhan iman. " Jangan khawatir tentangku, aku cukup merasa senang disini, melihat semua orang tersenyum, menyapa dan menghargaiku. Entah kemana saja kumelangkah, disini aku merasa sangat aman. Kalian saudara seiman yang menentramkan, Terimakasih " katanya.

Bagiku kata-kata itu adalah hal yang sangat menyentuh. Melankolis! seperti dentingan pianonya. Ehe,lalu malam itu kita berpelukan, saling menguatkan, dan berdoa agar suatu saat kita bisa bertemu kembali dengan sejuta kisah abadi, ditempat yang spesial pula. ya! tempat selain indonesia (Semoga) bercerita tentang keteguhan, kesabaran, bahkan tertawa bersama melihat tingkah lucu  Ilse memakan Mollen kesukaannya. Haha

Sederhana saja! Allah menciptakan kisah berbeda bagi masing-masing hambanya agar dunia ini seimbang, ada yang lemah untuk dikuatkan, ada saudara untuk rasakan nyaman, ada keluarga agar kita bisa pulang, ada yang putih ada yang hitam, ada malam juga karena siang. 

فاذكرونى اذكركم واشكرولى ولا تكفرون 
Jadi, Nikmatilah kehidupan !

Sabtu, 24 Agustus 2019

Life is about Literacy



Life is about literature because it is the kind of potential causes of our experiences. Studying literature means that we are studying about life. We can aware of society and respect humanity. Therefore, studying literature make us understood about ourself and also ones behind us deeply.
Literature is a way to read the real world. Dr. Siti Masitoh said, "Literature has become the social capital and life mirror". We can find some knowledge like philosophy, psychology, ethics, history, politics, and religion in literary study. The most important we can become more sensitive and empathy to face everything in this life.
In this world we can find many cultures. Just open our mind to look and study more about anything because the special memory can we make by ourself. We must realize that many values can we get in another world. In these picture, I have given some opportunities by Allah to make a  communication, telling experiences, and joking with a nice girls and boys from polish. This experiences made me believe that God created different places, knowledge, languages, cultures and so on, so that we should be learn and get to know each another. The different things will become a blessing for each person's life. I am increasingly aware that there are still many wider worlds outside. Visiting them doesn't have to change my appearance right ...? Haha because I realize their beauty level is so far beyond me ..... Dobra!!
From now on, we as the Indonesian agent of change lets motivate ourself to study harder then before, especially in literary and society. Remember what we do today will give the big influence in our future. So, keep going on in this beautiful world gengs....😊   



Before that


PUISI KU
Oleh : Dilla Rachma Aprilia

Aku adalah matahari yang selalu bersinar utukmu
Aku bagaikan bulan sabit yang selalu tersenyum untukmu
Layaknya bidadari yang kan selalu menjaga dan menemanimu
Tapi, inilah aku

Aku berbeda dari wanita-wanita lainnya
Aku mencoba menjadi wanita yang istimewa
Dalam tubuhku ada sebuah aliran gelora cinta
Cinta yang hakiki, yang abadi, yang tak semua insan miliki
Cinta akan anugerah sang Ilahi Rabbi

Karena dalam tubuhku ini
Mengalir sebuah impian yang pasti
Bagai puncak Everest yang memecahkan pundi-pundi bumi
Dan yang terus berusaha menjaga kesucian diri ini
Demi  mencapai kesuksesan yang hakiki

Akulah anugerah terindah dari sang maha pencipta
Yang selalu mengharap rahmat dari sang maha kuasa
Dan kukatakan pada dunia
Bahwa aku "bisa"
Salam, Dilla Rachma Aprilia

Bojonegoro, 11 September 2004
03.00 Pm